Kisah Om Angger

Om Angger datang untuk Anda. dapatkan renungan, sharing-sharing menarik, opini dan brita-brita dari lingkungan seputar saya

Mengenai Saya

Foto saya
Ga' rugi Kamu kenal ama aku, cowo kece dengan perut tambun yang doyan fotografi dan cinematografi(bisa-bisa kamu jadi model foto atau bintang filmku). Dulu aku sempet juga ikut seminarium Symphoni Orkestra pegang timpani, juga terdaftar sebagai dewan pendiri koran Seminari(Jendela) sebagai fotografer. Sampe sekarang masih terdaftar sebagai calon IMAM. maunya......
Tampilkan postingan dengan label renungan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label renungan. Tampilkan semua postingan




Paskah tahun ini sedikit berbeda dengan paskah-paskah sebelumnya. Tahun ini sebuah diskusi tentang terminus Passover dan Easter menyeruak ditengah sukacita kebangkitan. Seorang teman menanyakan bagaimana tanggapan saya. Saya selaku pribadi yang pernah belajar teologi dan saat ini bekerja sebagai pewarta berita akan mencoba memaparkan beberapa gagasan tanpa mewakili pihak Gereja atau pihak manapun.

Easter
Memang ada orang yang menduga bahwa Easter berasal dari nama dewi Isthar (dari Sumeria) atau dewi Eostre/ Astarte (dari Teutonik). Memang sekilas bunyinya mirip, seperti halnya juga, bahwa besar kemungkinan kata “EASTER” berakar dari kata “Eostur”, yang berarti “musim kebangkitan” (season of rising) yang mengacu kepada musim semi. Maka kata “Easter” digunakan di Inggris, “Eastur” di bahasa Jerman kuno, sebagai kata lain musim semi. Sedang di negara- negara lain, digunakan istilah yang berbeda: “Pascha” (bagi Latin dan Yunani), ” Pasqua” (Italia), “Pascua” (Spanyol), “Paschen” (Belanda).
Musim semi terjadi setelah musim gugur. Saat itu, tumbuh-tumbuhan kembali mekar. Mekar erat hubungannya dengan munculnya kembali kehidupan. Musim semi menjadi saat dimana tetumbuhan kembali berbunga setelah berhasil melewati musim dingin yang membuat mereka tidak berbunga.  

Passover
Lalu bagaimana dengan kata Passover? Jujur saja, baru pada tahun ini saya kenal istilah ini diartikan sebagai paskah. Ternyata sebagian besar orang menggunakan istilah Passover sebagai pengganti term Paskah. Namun, secara hurufiah passover (pass+over) bisa kita artikan melampaui, melewati dengan lebih (di atas).
Secara liar, bagi saya passover adalah tindakan yang dilakukan Yesus saat ia melampaui alam kematian hingga akhirnya bangkit. Selain itu, kita tahu sejarah paskah ialah persitiwa kemenangan bangsa Israel yang berhasil melampaui (melewati) Laut Merah saat dikejar tentara Firaun.
Saat ini passover juga berlaku bagi kita yang melampaui diri kita yang sebelumnya penuh dosa. Lewat masa prapaskah selama 40 hari itulah kita bisa melampaui diri kita sendiri menjadi pribadi yang jauh lebih baik. Paskah (Passover) itu erat hubungannya dengan peristiwa melampaui.

“Tetapi andaikata Kristus tidak dibangkitkan, maka sia-sialah pemberitaan kami dan sia-sialah juga Iman-mu,”
(I Korintus 15:14)
Paskah
Paskah berasal dari kata bahasa Ibrani Pesakh, yang artinya harafiahnya adalah lewat atau Tuhan lewat. (Kej. 3:8; Kel. 12: 13b). Dalam Perjanjian Lama, (bisa dibaca kejadiannya pada Kel. 12: 12-13) peristiwa kematian semua anak sulung di tanah Mesir, baik manusia mau pun binatang, Di sanalah Allah berjalan melewati (=pesakh) rumah-rumah, dan  pada setiap pintu yang bertanda darah, Allah akan melewatinya, tetapi tidak demikian pada rumah-rumah yang pintunya tidak bertandakan darah, disitu akan terjadi tulah kemusnahan.
Adapun Perjanjian Baru (PB) paskah diartikan menjadi dua. Pertama arti harafiah yaitu Kristus bangkit (Mat. 28:5- 6). Kedua, arti rohaniah,  yaitu di dalam Yoh. 1: 29:  “Anak Domba Allah” (yang kelak akan dikorbankan untuk menghapus dosa dunia); dan di dalam Mat. 26: 2: Anak Manusia akan dikorbankan.” Dengan demikian,  arti rohaniah Paskah adalah kurban untuk menebus dosa. (Rm. 6:23)

Hanya Istilah
Paskah, Easter, Passover hanyalah sebuah istilah. Sama seperti Happy birthday (ing), sugeng ambal warsa (jv), dirgahayu (san), selamat ulang tahun (ind). Intinya tetap sama. Paskah, Easter, Passover bermakna tindakan melampaui, melewati dan adanya kebaharuan. Jangan sampai masalah istilah ini justru mengaburkan perayaan iman yang kita rayakan. Cinta Kasih, Penebusan, dan Kebangkitan menjadi jiwa dari perayaan Paskah kita.
                Percayalah bahwa Paskah ialah peristiwa Cinta Kasih, Penebusan dan Kebangkitan yang mendasari iman kita. Sebab Rasul Paulus sendiri pernah mengatakannya pada jemaat di Korintus “Tetapi andaikata Kristus tidak dibangkitkan, maka sia-sialah pemberitaan kami dan sia-sialah juga Iman-mu,” ujarnya dalam I Korintus 15:14.
Dengan demikian bukan berarti karena sebutan Easter mirip dengan Isthar atau Eostre, maka ucapan “Happy Easter” berkaitan dengan penyembahan berhala. Sebab bagi umat Kristen, perayaan Easter/ Pascha/ Paska itu bersumber dari penggenapan nubuat Perjanjian Lama di dalam kurban Salib Kristus yang memberikan buah Kebangkitan. (TMS)




Mungkin sudah banyak yang tahu bahwa saya mau mundur... mungkin banyak juga yang tidak tahu saya mundur.... bahkan mungkin banyak yang sok tahu alasan saya mundur... tulisan ini saya buat untuk berbagi kepada para sahabat sekalian. Juga sebagai bentuk pertangung jawaban atas dukungan yang telah Anda berikan selama ini.
Saya ga tau dari mana datangnya kumpulan orang yang sok tahu tentanng sebab-sebab saya keluar... ada yg bilang karena dihukum, karena nakal terus dikeluarkan, karena masalah cewe, karena masalah keluarga, dan karena-karena yang lain...


Para sahabat yang terkasih, 9 tahun saya hidup sebagai seorang seminaris (calon Imam). 4 tahun di Mertoyudan Magelang, 1 tahun di Tahum Rohani Celaket, dan 4 tahun terakhir di Seminari Tinggi Malang. Sayangnya semakin lama, panggilan yang saya hidupi ini tidak semakin mantab saya hidupi. Beberapa kali saya kepikiran untuk hidup sebagai seorang awam. Pikiran itu terus mengusik saya. Pikirian itu jelas menganggu ritme hidup saya di seminari. Saya pernah bertanya kepada 2 orang Imam yang cukup dekat dengan saya, Rm. Nano, Sj dan Rm. Koko, Pr. Saya bertanya “kapan romo benar-benar yakin dengan panggilan ini dan sama sekali tidak pernah kepikiran lagi untuk keluar?” mereka menjawab dengan kisah masing-masing dan dengan keterangan waktu yang jelas. Kemudian saya bertanya pada diri saya “Ngger kapan kamu mantab dan ga kepikiran keluar lagi?” tapi saya tidak menemukan jawaban itu.
Januari 2011


Dari dulu, penilaian banyak orang tentang panggilan ialah “Kalo kamu bahagia hidup di seminari, berarti kamu terpanggil!” Jujur, saya bahagia hidup di seminari. Sayangnya saya bahagia bukan karena saya akan jadi pelayan Gereja. Saya bahagia karena banyak orang yang mendukung dan memperhatikan saya. Saya bahagia karena kehadiran saya punya peran dan makna bagi orang lain. Akhirnya muncuk pertanyaan besar dalam hidup panggilan saya. “Ngger benarkah kamu bahagia saat kamu nanti jadi imam? Atau kamu cuma bahagia karena alasan-alasan dangkal tadi? Benarkah kamu bahagia saat harus hidup sendiri? Benarkah kamu bahgia bila kamu harus melayani umat di pedalaman desa sana? Benarkah kamu bahagia bila suatu saat kamu menghadapi konflik dengan umat yang kamu layani? Bagaimana kalo saat jadi imam ternyata kamu justru tidak ada yang memperhatikan, menghargai, dan mendukung kamu, apakah kamu juga bahagia? Ngger... kamu bener-bener bahagia menjadi seorang Romo, Pastur, Imam, gembala, Pelayan Gereja dan Umat Allah?” pertanyaan ini saya gumuli sepanjang 1,5 tahun terakhir. Dan akhirnya membawa saya pada jawaban.
1.      
Kebahagian yang selama ini ada dalam diri saya adalah Kebahagiaan Semu. Saya belum sampai pada taraf benar-benar ingin melayani Tuhan dengan sepenuh hati sebagai seorang gembala.
2.       Kurang lebih 2 tahun lagi saya ditahbiskan. Saya bisa terus di seminari, menahan sampai 2 tahun dan lalu saya ditahbiskan. Tapi... itu semua tidak menjamin saya menjadi mantab. Saya justru berpikir, bisa-bisa keraguan saya membuat saya mundur dari Imamat saya. Saya sangat menghargai Imamat, saya menaruh hormat yang sangat tinggi pada imamat. Karena itu saya memutuskan mundur saat ini. Saya tidak ingin lebih melukai Gereja, Umat dan Imamat. Saya pesan bagi mereka yang masih sedang dan akan menjalani imamat “Iki Imamat tjah... iki dudu Dolanan”

3.       Dalam doa, refleksi, permenungan dan dalam ekaristi yang saya sambut setiap pagi, saya selalu memohon agar Roh Kudus menuntun batin saya. Saya memohon kepada Allah sang empunya kehidupan untuk menunjukan arah hidup saya. Saya juga memohon kepada Yesus untuk senantiasa menemaniku dalam setiap langkah hidupku. Dan kepada Maria Bunda Gereja aku serahkan semua permohonan, suka duka, dan keluh kesahku. Hingga akhirnya Jumat dalam Oktaf Paskah, Saya bertemu dengan Uskup Surabaya Mgr. V. Sutikno, Pr untuk mengutarakan pergulatan panggilan saya. Saya melihat kekecewaan dari bapa Uskup... seseaat setelah saya memutuskan untuk mundur... Beliau terdiam, tertunduk, lesu, tanpa suara, hanya garukan kepala... saya tak berani angkat bicara... terdiam 5 menit hingga akhirnya beliau menghela nafas panjang... dan berkata “yo wes mas.... kalau itu sudah keputusanmu” Beliau nampaknya berat dengan keputusan saya. Sebelum saya mengungkapkan niatan saya untuk mundur beliau masih menahan saya, meneguhkan panggilan saya, meyakinkan saya untuk tetap setia dalam panggilan ini. Kebaikan bapa Uskup saya rasakan sampai saat ini, menyekolahkan saya, menghidupi saya, mendoakan saya dan yang tidak saya duga ialah Bapa Uskup mengijinkan saya menyelesaikan pendidikan saya sampai tuntas baru kemudian mundur untuk pamit dari panggilan ini. Trima Kasih bapa Uskup.


Para sahabat yang terkasih, ijinkan dengan segala rendah hati saya Andreas Benoe Angger Putranto mengucapkan:

Maaf, apabila keputusan ini menyakiti Anda sekalian, maaf juga bila dalam pelayanan saya selama ini kurang begitu berkenan, maaf bila selama ini yang nampak adalah Angger sebagai pribadi, bukan Angger sebagai seorang calon imam. Saya juga minta maaf, kepada Anda sekalian yang telah mendukung dan mendoakan saya selama ini, maaf karena saya tidak mampu lagi seperti apa yang Anda inginkan. Maaf bila saya dulu menjanjikan akan mengundang Anda untuk datang pada tahbisan saya :)

Trimakasih, atas dukungan dan doa Anda selama ini, trima kasih atas pengertian Anda atas keputusan yang saya ambil, trimakasih karena anda tidak percaya pada gosip-gosip murahan yang menyebarkan alasan saya keluar, terima kasih atas kepercayaan Anda sekalian untuk memberi saya kesempatan melayani dalam berbagai kesempatan, trimakasih atas persahabatan, perjumpaan dan kenangan yang sempat terjalin. Anda adalah Berkat dari Allah bagi hidup saya.

Mohon doa dan Dukungan, atas segala keputusan yang telah saya ambil. Mohon doa dan dukungan untuk hidup saya selanjutnya, mohon doa dan dukungan untuk kesehatan dan kesejahteraan sahabat-sahabat saya yang sampai saat ini masih berjuang dalam menanggapi panggilan Tuhan. Mohon doa dan dukungan Anda untuk keluarga saya yang mungkin akan kena dampak dari keputusan ini, semoga mereka dan saya tetap setia dalam karya pelayanan Gereja.

Sekali lagi : “Maaf, Terima Kasih dan Mohon Doa serta dukungan” dukungan nyata Anda adalah dengan mendoakan “Doa Calon Imam PS 183” sesaat setelah membaca ini :)
Besar harapan saya setelah ini tidak ada lagi yang sibuk mencari gosip atau alasan tentang saya keluar... sibuklah mencarikan pekerjaan untuk saya... Hehehe....

Pesan saya untuk kita semua.... Capek itu Biasa... kerja buat Tuhan itu Luar Biasa..... dan “jangan pernah berkata sulit, karena Anda akan kesulitan... jangan pernah berkata gampang, karena anda akan meremehkan.... tapi katakanlah BISA maka Anda akan meraih Sukses... karena SUKSES itu hak Anda” dan bagi para calon Imam... Seriuslah mengolah panggilan, mintalah pada Allah sang empunya panggilan agar Anda sekalian dimampukan untuk jabatan Imamat “Iki Imamat!! Dudu dolanan”

akhirnya dengan penuh syukur saya katakan Saya Bahagia Dengan Keputusan Saya

Salam, Doa dan Cinta
Angger Putranto



Tidak heran jika banyak yang mengatakan bahwa Yesus itu nyentrik. Selalu saja ada hal tidak
lazim yang Ia lakukan. Mementingkan satu domba yang hilang dari pada 99 yang
lain misalnya. Tidakan Yesus ini pasti ditolak mentah-mentah oleh orang
ekonomi. Bagaimana tidak, Ia melawan prinsip ekonomi! Mendapatkan keuntungan
sebanyak-banyaknya dengan resiko seminimal mungkin, bagi Yesus ternyata
bukanlah sebuah prinsip yang harus dilakukan. Ia malah melakukan yang
sebaliknya. Ia mengambil resiko yang besar, meninggalkan 99 domba di padang
gurun dan mencari satu domba yang hilang. Sungguh besar resiko yang sebenarnya
dihadapi oleh-Nya. Meninggalkan 99 domba sama saja membiarkan srigala pemangsa
menyerang kawanan domba-Nya, atau bahkan malah membuat kawanan domba itu
tercerai berai. Namun, sebenarnya bukan nilai itu yang ingin ditampilkan lewat
perikop ini. Yesus dalam perumpaannya ini ingin menyadarkan bahwa
seburuk-buruknya kita, Ia pasti memperhatikan kita, kendati ia tahu resiko
besar telah menanti-Nya.



Mrk 7:14-23

Teman-teman yang terkasih, renungan ini saya tulis ditengah kegundahan hati saya melihat saudara-saudara kita yang teraniaya, saudara-saudara kita umat Kristen dan Katolik di Temangung dan juga saudara-saudara kita Ahmaddiyah di banten. Mereka telah menjadi korban dari kejahatan yang mengatasnamakan Allah, mengatasnamakan Agama. Jujur saya mengalami kesulitan, mau menuliskan renungan tentang apa di saat seperti ini!

Mereka yang melakukan kekerasan kadang melihat segala sesuatu di luar dirinya tidak benar, mereka yang melakukan kekerasan ingin agar kehidupan jadi jauh lebih baik. Namun apa yang terjadi? Apakah yang dilakukan itu benar? Apakah yang dilakukan itu mengarahkan kepada kebaikan?

Teman-teman yang terkasih, kadang Kita, atau minim saya... merasa benar, dengan mengatakan ini baik... ini buruk... ini salah... ini benar.... hanya didasari oleh keyakinan kita. kita merasa acuh, cuek, dan ga mau tau bagaimana pikirian orang lain...




Sebuah Refleksi Sederhana Sewindu Paroki Yohanes Pemandi Janti

Renungan Sederhana ini ingin menceritakan bagaimana Yesus bergulat dengan rasa sakit dan sengsara yang ia alami di akhir hidup-Nya. Yesus merupakan gambaran pribadi yang taat akan kehendak Bapa-Nya yang mengutusnya. Kematian-Nya di Salib ialah kehendak Bapa-Nya dan Bukan Kehendaknya. Ia melakukan itu semua semata-mata demi Kita, umat yang ingin ditebus-Nya. Karya penebusan ini sekali lagi atas kehendak bapa-Nya, Bukan Kehendak Yesus sendiri. Sisi kemanusiaan Yesus enggan melakukan semua ini. Raja Setan Mencoba menawarkan kebaikan hatinya untuk menolong Yesus memanggul salib, bahkan raja Setan sebenarnya mampu membuat Yesus bebas dari siksa dan sengsara. Bagi Yesus, menerima tawaran Raja Setan sama berarti dengan meninggalkan tugas yang diberikan Bapa kepada-Nya. Menerima tawaran Raja Setan sama artinya dengan tidak setia. Namun, Yesus bersikukuh untuk terus tetap setia mengemban amanat suci ini. Bagi Yesus biarah siksa dan sengsara ini tetap terus ia terima asalkan kita selamat karena penebusannya ini. Jalan salib Yesus ini ialah jalan salib yang penebusan karena Cinta-Nya pada umat-Nya. Siksa dan dera ia terima karena itu semuua ialah LUKA UNTUK SEBUAH CINTA...


Yesus akan sungguh sangat tersiksa jika iman umatnya tidak berkembang. Sebenarnya bukan teknologi atau kenakalan yang menjadikan iman generasi muda itu semakin lama semakin tipis. Tak jarang kita sebagai orang tua menjadi faktor utama penghambat iman anak. Melarang anak ikut aktif dalam kegiatan Gereja seperti misdinar, bina iman, remaka dan mudika. Yesus selalu menyerukan “Kehadiranmu Kunantikan” dalam setiap jengkal batin generasi muda. Kadang generasi muda ingin menjawab namuan orang tua lebih senang anaknay berkembang dalam prestasi di sekolah dan pengembagan bakat. Yesus sungguh akan sangat bahagia apabila Kaum Muda bisa aktiif dalam kegiatan menggereja, ditambah lagi prestasi-prestasi yang diperoleh. Gerak dinamis Kaum Muda menjadi nilai lebih bagi mereka. Dan itulah yang membuat mereka merasa bahwa “Aku Bisa

Namun, sayang gerak dinamis Kaum Muda tidak diikuti dengan perkembangan Iman. Mereka menamai diri mereka MUDIKA, Muda-Mudi Katolik! Namun, kegiatan mereka tidak jauh berbeda dengan Karang Taruna. Mereka meninggalkan nama Katolik dan melupakan iman yang seharusnya dibina di sana. Inilah yang seharusnya menjadi pertanyaan bagi Kaum Muda “Apakah Aku Memang Bisa?” Stop untuk memikirkan kaum muda! Bagai mana dengan generasi tua? Apakah anda sudah lebih baik dari mereka generasi muda? Satu hal yang menjadi penyakit masyarakat, menjadikan pribadi-pribadi yang lemah sebagai “Buah Bibir”!! Kebiasaan kiita untuk ngrasani, menduduh dan memfitnah orang lain membuat kita tidak jauh berbeda dengan orang Farisi yang hendak melempari batu kepada perempuan yag berzinah. Benarkah kita pengikut Yesus? Atau sebenranya kita ini kelompok orang farisi??

Dalam sebuah keluarga yang nampaknya damai dan ceria nampak sebuah suasana tentram. Namun apakah setentram iman setiap anggota keluarga di dalamnya? Sudahkah mereka saling berbagi kasih antara suami dan istri, orang tua dan anak-anak, serta antara kakak dan adik. Tugas orang tua tidak hanya berhenti pada menghidupi ekonomi dan jasmani saja. Sebagai keluerga katolik hendaknya kita juga mengembangkan “Hidup Doa” dalam keluarga. Hidup doa sebagai dasar hidup menggereja sangatlah penting. Karena bagaimanapun orang-orang satu paroki ialah keluarga kita. Paroki yang menjadi keluarga kita ini hendakna bisa jauh lebbih berkembang bila umat yang ada didalamnya benar-benar bisa bergerak dengan bebas tanpa ada satu-dua pibadi yang nampak benar-benar menonjol. Sampai-sampai peran orang-orang tertentu itu serasa menjadi pemilik tunggal paroki ini. Paroki ini milik kita, bukan milik sebagian orang! Kita terlalu mudah digerakkan dan lebih suka bila orang lain menggerakkan kita. Inilah yang akhirnya membuat kita “Kurang Inisiatif”


Kelemahan dan segala tingkah laku kita yang tidak berekenan di mata Yesus merupakan cambuk, siksa dan dera baginya. Kerap kali kita mengatakan bahwa Yesus mati disalib demi menyelamatkan dosa-dosa kita. Namun tetap saja kita jatuh pada dosa dan kelemahan yang sama, tahun lalu, tahun ini, tahun depan!! Harus berapakali Yesus disalib agar kita benar-benar bersih dari segala noda dosa. Jangan sampai Raja Setan berkata kepada Yesus Salah besar kalau engkau mengatakan bahwa penderitaan-Mu ini ialah LUKA UNTUK SEBUAH CINTA! Yang ada hanyalah LUKA UNTUK SEBUAH KESIA-SIAAN.

---------Selamat berefleksi------------



Video ini benar-benar menggugah... rasakan sentuhannya... ingatlah ayah Anda... Jika ingin menangis,, menangislah... Video ini membuat saya benar-benar ingin memeluk papa saya... Kendati orang tua kita mungkin tidak melakukan hal seperti orang dalam Video ini... Saya yakin orang tua Anda mencintai Anda sama seperti dia mencintai anaknya...

Sekiranya, begitupulalah Bapa kita di Surga. kita ini anaknya yg lemah. Namun, ia sama sekali tidak pernah melupakan kita untuk sedetikpun...

Saya ingin mengajak Anda sesaat setelah menonton video ini, segera saja berdoa kepada Tuhan, ucapkanlah Syukur atas orang tua Anda masing-masing, doakan Ayah dan Ibu Anda! Mohonlah berkat bagi mereka. Bila orang tua Anda telah tiada, mohonlah kepada Tuhan, agar Ia mengijinkan orang tua Anda ada di sisi-Nya.

Jika perlu Telepon Ayah Anda sesaat setelah menonton Video ini... ucapkan..."Ayah... Terima Kasih, aku mencintaimu!!"


Salam dan doa untuk ayah Anda,
Fr. Angger




Teks yang kali ini aku renungkan merupakan teks yang amat sangat familiar. Namun, aku yakin banyak makna yang ada di dalamnya. Saat merenungkan teks ini, aku membawanya pada situasi hidup di seminari. Aku membayangkan ada dua kelompok frater di seminari ini. Pertama, kelompok frater bungsu ialah mereka yang taat pada peraturan seminari. Kelompok kedua ialah kelompok frater sulung yang tidak taat pada peraturan seminari.
Pada saat merenungkan teks ini, aku perlahan-lahan dibawa untuk merasakan apa yang dirasakan oleh kelompok si bungsu. Aku merasakan bagaimana rasa tidak suka dan sakit hati saat kelompok si bungsu yang tidak taat di seminari namun masih bisa hidup di seminari. Sebenarnya mereka bukan saja tidak taat, mereka bahkan memang sudah tidak ingin jadi imam, namun sekali lagi, mereka tetap bisa tinggal di seminari. Segala tindakan mereka di seminari aku pandang sebagai usaha untuk bertahan hidup, maksudnya agar bisa makan tiga kali, dan mendapat tempat istirahat yang nyaman. Pertanyaan besar muncul di batinku “mengapa mereka masih saja dibiarkan hidup di seminari?”
Namun, saat aku renung-renungkan lagi aku di bawa pada sebuah kesadaran bahwa aku juga sebenarnya berada di kelompok frater bungsu. Banyak tindakkanku yang sebenarnya merupakan tindakan yang tidak sesuai dengan peraturan seminari. Namun, kenapa aku masih diijinkan tinggal di sini? Tapi memang kelompok frater bungsu ini benar-benar menjadi batu sandungan bagi kelompok frater sulung. Aku membayangkan (dan memang aku mengalami dalam relitas) bahwa muncul pikiran dari kelompok sulung “Ngapain juga aku harus taat pada aturan seminari, tokh mereka yang tidak taat pada peraturan seminari mendapat hak yang sama dengan aku, yang (lebih) taat! Mereka bisa makan tiga kali sehari serta mendapat tempat tinggal yang nyaman. Tidak ada bedanya bukan? Bahkan mereka lebih hidup enak dengan HP, teman-teman cewe yang banyak, tidak ada beban kendati sering tidak ikut misa dan kegiatan komunitas dan segala bentuk kenikmatan yang lain (kendati tidak sesuai dengan cara hidup komunitas seminari). Lebih baik aku hidup seperti kelompok bungsu. Ya, mereka masih boleh diijinkan hidup di seminari ini.”
Pada permenungan lain aku menemukan jawaban mengapa mereka diijinkan tinggal di seminari ialah bahwa Bapa (dalam hal ini Staff atau Allah Bapa) ingin melihat adanya perubahan dari kelompok frater bungsu. Bapa ingin bahwa si bungsu berubah saat masih frater dan akhirnya bisa kembali menjadi frater yang taat, menjadi frater kelompok sulung. Sebab apa artinya jika perubahan mereka menjadi baik terjadi saat mereka tidak lagi ada di seminari. Perubahan itu lepas dari waktu. Sebab Bapa selalu setia dan menanti si Bungsu kembali ke jalan yang benar. Bagi aku sendiri, akupun sadar bahwa aku harus kembali pada Bapa, karena ia telah menanti kedatanganku.

Dalam injil banyak dikisahkan ttg pristiwa di mana Yesus menunjukan kuasanya sebagai anak Allah. Kuasa tersebut nampak dari beberapa peristiwa misalnya, Yesus menyembuhkan orang sakit, mengusir roh jahat, dan mukjizat-mukjizat lainnya. Sayangnya, hampir semua mukjizat tersebut tidak disukai oleh petinggi-petinggi agama di Yahudi. Ini yang membuat saya bertanya-tanya, kenapa orang berbuat baik malah dilarang, dibenci, hingga akhirnya diftnah dan menjadi musuh publik? Apa mungkin para petinggi tersebut takut otoritasnya tersaingi Yesus? Pertanyaan ini yang terus menerus saya dengung-dengungkan dalam renungan kali itu.
Beberapa pristiwa menakjubkan tersebut memang terjadi saat hari Sabat. Hari yang dianggap orang Yahudi sebagai hari yang kudus, dimana Tuhan bersitirahat setelah 6 hari melakukan karya penciptaan. Hari Sabat, bagi orang Yahudi, menjadi waktu yang tepat untuk menguduskan satu hari bagi Tuhan. Pada hari itu, orang Yahudi tidak mengijinkan setiap warganya untuk berkativitas selain untuk memuji Tuhan. Saya rasa inilah titik tolak dimana orang Yahudi tidak setuju dengan apa yang dilakukan oleh Yesus. Mungkin memang ada rasa ketakutan dari para petinggi Yahudi bila otoritas mereka disaingi oleh Yesus. Namun, saya rasa lebih tepat bahwa mereka terlalu kolot untuk mempertahankan adat. Mereka lupa akan tujuan hari Sabat yang sebenarnya digunakan sebagai waktu yang tepat untuk memuji Allah. Lihat, bukankah dengan melakukan mukjizat-mukjizat tersebut nama Tuhan justru semakin dimuliakan. Karena apa? Karena Yesus melakukan itu semua dalam nama Allah.
Pertanyaan selanjutnya yang muncul ialah kenapa juga Yesus melakukannya pada hari Sabat, padahal Yesus mengerti akan hukum yang berlaku? Untuk pertanyaan ini saya rasa Yesus ingin mengubah image orang Yahudi tentang hari Sabat. Bahwa Tuhan hanya berkerja pada hari pertama sampai keenam saja bagi Yesus ialah pemikiran yang merendahkan Allah. Saya pun merasa paradigma tersebut memperlihatkan Tuhan yang lemah. Padahal Tuhan itu Mahakuasa. Nah, dengan melakukan mukjizat pada hari Sabat, Yesus ingin membuktikan bahwa sebenarnya Tuhan tidak beristirahat pada hari ketujuh. Mukjizat pada hari Sabat sebenarnya menjadi bukti nyata bahwa Tuhan tidak pernah sekali-kali berhenti berkerja sekalipun pada hari ketujuh, hari Sabat.
Sebenarnya konflik antara petinggi agama dan pribadi-pribadi yang memiliki kemampuan lebih tersebut tidak hanya terjadi pada jaman Yesus saja. Sekarang inipun banyak terjadi dimana para petinggi gereja katolik menolak gerakan-gerakan tertentu, antara lain gerakan karismatik. Memang konflik yang terjadi tersebut tidak bisa disamaratakan. Namun, saya rasa konflik yang terjadi sekarang ini memiliki pola yang sama dengan yang terjadi dengan jaman Yesus. Petinggi gereja versus pribadi atau gerakan tertentu. Saya perbedaan mendasar antara konflik jaman Yesus dan jaman ini ialah inti konfliknya. Pada jaman ini beberapa petinggi gereja menolak adanya gerakan karismatik ialah bukan karena mereka tidak lagi beriman akan Allah. Mungkin inti konflik tersebut ialah bahwa otoritas gereja tidak setuju dengan gerakan karismatik yang terkesan ingin menunjukan karya atau kehadiran Tuhan lewat suatu hal yang luar biasa, seperti bahasa roh, kuasa penyembuhan, dll. Bagi gereja sebenarnya Tuhan juga hadir lewat hal-hal yang biasa saja. Lihat saja nabi Elia yang merasakan Tuhan dalam angin sepoi-sepoi basah, dan bukan dalam angin badai. Mungkin saya rasa, Gereja tidak ingin umatnya hanya percaya bahwa Tuhan hadir dalam tindakan-tindakan besar. Ditakutkan banyak umat yang mungkin tidak atau belum mengalami pristiwa itu malah justru tidak percaya pada Tuhan atau bahkan merasa bahwa dirinya tidak dikasihi Tuhan.
Bila memang benar hal itu yang ingin diperjuangkan gereja, saya sangat setuju dan mendukung. Dan berharap memang gereja memperjuangkan hal itu. Saya yakin, percaya dan mengimani bahwa Tuhan juga berkarya dalam hal-hal kecil. Tuhan tidak hanya berkarya pada orang-orang yang bisa bernubuat, pada orang-orang yang mendapat karunia bahasa roh, atau pada orang-orang yang memiliki kuasa penyembuhan. Iman saya meyakini bahwa Tuhan terus berkaya dalam dunia ini secara umum dan dalam diri setiap manusia secara khusus, juga termasuk dalam diri saya. Kadang saya kerap kali lebih percaya pada Tuhan lewat hal-hal besar, misalnya sentuhan rohani berdoa sampai menangis, tersentuh oleh pristiwa-pristiwa tertentu, rindu akan jamahan tuhan, ingin melihat mukjizat, dll. Padahal banyak mukjizat yang saya alami setiap hari. Mukjizat-mujizat kecil itu tidak saya sadari. Hanya dengan bernafas saya bisa bertahan hidup. Saya bisa hidup di dunia ini sampai saat ini sebenarnya merupakan mukjizat terbesar dalam sejarah hidupku. Terlalu banyak mukjizat-mujizat kecil yang aku alami seperti angin sepoi-sepoi basah tanpa aku sadari. Oleh karena itu aku kembali terdorong utnuk berdoa agar aku mampu merasakan Kristus yang hadir sebagai mukjizat dalam hari-hariku secara biasa dan sederhana. Tuhan dengarkanlah doaku. Amin


Pada awalnya, aku memandang Tuhan sebagai seorang pengamat; seorang hakim yang mencatat segala kesalahanku, sebagai bahan pertimbangan apakah aku akan dimasukkan ke surga atau dicampakkan ke dalam neraka pada saat aku mati. Dia terasa jauh sekali, seperti seorang raja. Aku tahu Dia melalui gambar-gambar-Nya, tetapi aku tidak mengenal-Nya. Ketika aku bertemu Yesus, pandanganku berubah. Hidupku menjadi bagaikan sebuah arena balap sepeda, tetapi sepedanya adalah sepeda tandem, dan aku tahu bahwa Yesus duduk di belakang, membantu aku mengayuh pedal sepeda. Aku tidak tahu sejak kapan Yesus mengajakku bertukar tempat, tetapi sejak itu hidupku jadi berubah. Saat aku pegang kendali, aku tahu jalannya. Terasa membosankan, tetapi lebih dapat diprediksi … biasanya, hal itu tak berlangsung lama. Tetapi, saat Yesus kembali pegang kendali, Ia tahu jalan yang panjang dan menyenangkan. Ia membawaku mendaki gunung, juga melewati batu-batu karang yang terjal dengan kecepatan yang menegangkan. Saat-saat seperti itu, aku hanya bisa menggantungkan diriku sepenuhnya pada-Nya! Terkadang rasanya seperti sesuatu yang 'gila', tetapi Ia berkata, “Ayo, kayuh terus pedalnya!” Kadang Aku takut, khawatir dan bertanya, “Aku mau dibawa ke mana?” Yesus tertawa dan tak menjawab, dan aku mulai belajar percaya... Aku melupakan kehidupan yang membosankan dan memasuki suatu petualangan baru yang mencengangkan. Dan ketika aku berkata, “AKU TAKUT !” Yesus menurunkan kecepatan, mengayuh santai sambil menggenggam tanganku. Ia membawaku kepada orang-orang yang menyediakan hadiah-hadiah yang aku perlukan … orang-orang itu membantu menyembuhkan aku, mereka menerimaku dan memberiku sukacita. Mereka membekaliku dengan hal-hal yang aku perlukan untuk melanjutkan perjalanan … perjalananku bersama Tuhanku. Lalu, kami pun kembali mengayuh sepeda kami. Kemudian, Yesus berkata, “Berikan hadiah-hadiah itu kepada orang-orang yang membutuhkannya; Jika tidak, hadiah-hadiah itu akan menjadi beban bagi kita.” Maka, aku pun melakukannya. Aku membagi-bagikan hadiah-hadiah itu kepada orang-orang yang kami jumpai, sesuai kebutuhan mereka. Aku belajar bahwa ternyata memberi adalah sesuatu yang membahagiakan. Pada mulanya, aku tidak ingin mempercayakan hidupku sepenuhnya kepadaNya. Aku takut Ia menjadikan hidupku berantakan; tetapi Yesus tahu rahasia mengayuh sepeda. Ia tahu bagaimana menikung di tikungan tajam, Ia tahu bagaimana melompati batu karang yang tinggi, Ia tahu bagaimana terbang untuk mempercepat melewati tempat-tempat yang menakutkan. Aku belajar untuk diam sementara terus mengayuh … menikmati pemandangan dan semilir angin sepoi-sepoi yang menerpa wajahku selama perjalanan bersama Sahabatku yang setia: Yesus Kristus. Dan ketika aku tidak tahu apa lagi yang harus aku lakukan, Yesus akan tersenyum dan berkata … “Mengayuhlah terus, Aku bersamamu.”



Mohon Maaf:
Beberapa renungan yang sebelumnya tersedia, saat ini tidak bisa anda temukan di sini lagi karena renungan-renungan tersebut telah dibukukan rencana akan diterbitkan bulan Maret dengan bandrol Renungan Kaum Muda.

About this blog

Nah... Hari ini akan menjadi hari terhebat bagi Anda dan saya. Koq bisa? ya karena hari ini Anda telah membuka Blog saya. Saya percaya, Anda akan mendapat rahmat setelah membuka blog saya. Paling tidak itulah kebiasan saya, mendoakan orang yang mengunjugi blog saya. Selain itu kesediaan Anda membuka blok ini membuat saya bangga karena suara dan kata-kata saya dibaca orang lain....

Labels

Bolo-boloku...